Thursday, April 21, 2011

Filsafat Pendidikan Islam (Syeh Muhammad Naquib Al-Attas)

BAB I
PENDAHULUAN



A. Latar Belakang

Banyak tokoh atau ulama’ yang mengkaji tentang filsafat pendidikan islam. Salah satunya adalah Profesor Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Beliau adalah salah satu tokoh yang prihatin dengan pendidikan. Salah satu pemikiran terpenting profesor Naquib Al-Attas, adalah masalah ilmu, tepatnya ketiadaan ilmu dan otoritas dalam hal ilmu dikalangan umat islam. Ilmu di sini di pahami dalam artinya yang amat luas, mencakup ilmu-ilmu dasar tentang islam yang harus dimiliki setiap muslim, ilmu tentang sejarah dan tradisi islam, maupun ilmu tentang kondisi umat islam saat ini.

Mengingat adanya masalah-masalah dalam pendidikan maka dalam makalah ini akan dikaji lebih lanjut tentang permasalahan pendidikan islam menurut Profesor Syed Muhammad Naquib Al-Attas.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana biografi Syed Muhammad Naquib Al-Attas ?

2. Bagaimana konsep pendidikan menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas ?

3. Bagaimana sistem pendidikan islam menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas ?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui biografi Syed Muhammad Naquib Al-Attas.

2. Untuk mengetahui konsep pendidikan menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas.

3. Untuk mengetahui sistem pendidikan islam menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas.




BAB II
PEMBAHASAN


A. Biografi Syed Muhammad Naquib Al-Attas


Prof. DR. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Lahir dibogor, Jawa Barat, pada tanggal 5 september 1931. Ia adik kandung dari Prof. DR. Hussein Al-Attas, seorang ilmuwan dan pakar sosiologi di Univeritas Malaya, Kuala Lumpur Malaysia. Ayahnya bernama Syed Ali bin Abdullah AL-Attas, sedangkan ibunya bernama Syarifah Raguan Al-Idrus, keturunan kerabat raja-raja Sunda Sukapura, Jawa Barat. Ayahnya berasal dari Arab yang silsilahnya merupakan keturunan ulama dan ahli tasawuf yang terkenal dari kalangan sayid. Silsilah keluarganya bisa dilacak hingga ribuan tahun ke belakang melalui silsilah sayyid dalam keluarga Ba’Alawi di Hadramaut dengan silsilah yang sampai kepada Imam Hussein, cucu Nabi Muhammad SAW. Ibunda Syed Muhammad Naquib, yaitu Syarifah Raquan Al-‘Aydarus, berasal dari Bogor, Jawa Barat, dan merupakan keturunan ningrat Sunda di Sukapura.

Dari pihak ayah, kakek Syed Muhammad Naquib yang bernama Syed Abdullah ibn Muhsin Muhammad Al-Attas adalah seorang wali yang pengaruhnya tidak hanya terasa di Indonesia, tetapi juga sampai ke negeri Arab. Neneknya, Ruqayah Hanum, adalah wanita Turki berdarah aristokrat yang menikah dengan Ungku Abdul Majid, adik Sultan Abu Bakar Johor (w.1895) yang menikah dengan adik Ruqayah Hanum, Khadijah, yang kemudian menjadi Ratu Johor. Setelah Ungku Abdul Majid wafat (meninggalkan dua orang anak), Ruqayah menikah untuk yang kedua kalinya dengan Syed Abdullah Al-Attas dan dikaruniai seorang anak, Syed Ali Al-Attas, yaitu bapak Syed Muhammad Naquib.

Syed Muhammad Naquib Al-Attas adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Yang sulung bernama Syed Hussein, seorang ahli sosiologi dan mantan Wakil Rektor Universitas Malaya, sedangkan yang bungsu bernama Syed Zaid, seorang insinyur kimia dan mantan dosen Institut Teknologi MARA. Beliau, mendapat gelar ‘sayyed’ yang dalam tradisi Islam orang yang mendapat gelar tersebut merupakan keturunan langsung dari keturunan Nabi Muhammad SAW.

Riwayat pendidikan Prof. DR. Syed Muhammad Naquib Al-Attas (selanjutnya akan disebut Al-Attas), sejak ia masih kecil berusia 5 tahun. Ketika ia berada di Johor Baru, tinggal bersama dan di bawah didikan saudara ayahnya Encik Ahmad, kemudian dengan Ibu Azizah hingga perang kedua meletus. Pada tahun 1936-1941, ia belajar di Ngee Neng English Premary Schoool di Johor Baru. Pada zaman Jepang ia kembali ke Jawa Barat selama 4 tahun. Ia belajar agama dan bahasa Arab Di Madrasah Al-Urwatul Wutsqa di Sukabumi Jawa Barat Pada tahun 1942-1945. Tahun 1946 ia kemabali lagi ke Johor Baru dan tinggal bersama saudara ayahnya Engku Abdul Aziz (menteri besar Johor Kala itu), lalu dengan Datuk Onn yang kemudian juga menjadi menteri besar Johor (ia merupakan ketua umum UMNO pertama). Pada tahun 1946, Al-Attas melanjutkan pelajaran di Bukit Zahrah School dan seterusnya di English College Johor Baru tahun 1946-1949. Kemudian masuk tentara (1952-1955) hingga pangkat Letnan. Namun karena kurang berminat akhirnya keluar dan melanjutkan kuliah di University Malaya tahun 1957-1959, lalu melanjutkan di Mc Gill University, Montreal, Kanada, dan mendapat gelar M. A. Tidak lama kemudian melanjutkan lagi pada program pascasarjana di University of London tahun 1963-1964 hingga mendapat gelar Ph. D.

Daftar karya Syed Muhammad Naquib Al-Attas menulis dua lusin buku dan monograf, dan banyak artikel,[1] diantaranya yaitu :

· ( 1953 ) Rangkaian Ruba'iyat (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka). ( 1953 ) Ruba'iyat Rangkaian (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka).

· ( 1986 ) A Commentary pada Hujjat al-Siddiq of Nur al-Din al-Raniri: Menjadi Pameran Poin Penting tentang Perbedaan antara Posisi dari teolog, para filsuf, para Sufi dan Pseudo-Sufi pada Ontologis Hubungan antara Allah dan Dunia dan Pertanyaan Terkait (Kuala Lumpur: Kementerian Kebudayaan Malaysia).

· ( 2001 ) Risalah untuk Kaum Muslimin (Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC)).

· ( 2007 ) Tinjauan Ringkas Peri dan Pandangan Ilmu Alam (Penang, Malaysia: Universiti Sains Malaysia).


B. Konsep pendidikan menurut Syed Muhammad Naquib Al-attas


Dalam pandangan Syed Naquib al-Attas, sesuatu tidak bisa disebut sebagai proses kegiatan pendidikan, jika tidak ada penanaman adab. Ia menekankan pendidikan adab dalam proses pendidikan. Ia kurang setuju terhadap beberapa istilah yang dipakai untuk menunjuk pengertian "pendidikan Islam" seperti kata tarbiyah. Menurut Syed Naquib al-Attas, istilah tarbiyah bukanlah istilah yang tepat dan bukan pula istilah yang benar untuk memaksudkan pendidikan dalam pengertian islam. Karena istilah yang dipergunakan mesti membawa gagasan yang benar tentang pendidikan dan segala yang terlibat dalam proses pendidikan, maka wajib bagi kita sekarang untuk menguji istilah tarbiyah secara kritis dan jika perlu menggantinya dengan pilihan yang lebih tepat dan benar.[2]

Makna pendidikan menurut Syed Muhammad naquib adalah pendidikan adalah sesuatu proses penanaman suatu kedalam diri manusia. Suatu proses penanaman itu mengacu pada metode dan sistem untuk apa yang disebut pendidikan secara bertahap. “ sesuatu “ mengacu pada kandungan yang ditanamkan.

C. Bentuk Sistem Pendidikan Islam Menurut Syed Muhammad Naquib

Setiap manusia tak ubahnya sebuah miniatur kerajaan, respresentasi mikrokosmos (alam shaghir) dari makrokosmos (al-alamul-kabir).[3] Ia adalah seorang penghuni di dalam kota (madinah) dirinya sendiri, tempat ia menyelenggarakan dinnya. Karena, dalam Islam, tujuan mencari pengetahuan pada puncaknya adalah untuk menjadi seorang manusia yang baik dan bukannya seorang penduduk yang baik dari sebuah negara sekuler, maka sistem pendidikan dalam islam mestilah mencerminkan manusia, bukan negara.

Menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas bentuk sistem pendidikan islam adalah pengetahuan, manusia, perwujudan paling tinggi dan paling sempurna dari sistem pendidikan adalah universitas , dan mengingat bahwa universitas merupakan sistemasi pengetahuan yang paling tinggi yang di rancang untuk mencerminkan yang universal. Universitas modern yang berdasarkan model-model barat tidak mencerminkan manusia, melainkan lebih mencerminkan negara sekuler. Hal ini terjadi karena dalam peradaban barat , atau peradaban dalam lain selain islam, tidak pernah ada seorang manusia yang sempurnapun yang bisa menjadi model untuk ditiru dalam hidup dan yang bisa di pakai untuk memproyeksikan pengetahuan dan tindakan yang benar dalam bentuk universal sebagai universitas. Hanya dalam islam dalam pribadi suci Nabi saw. Sajalah, manusia universal atau sempurna itu ternyatakan. Karena konsep pendidikan dalam islam hanya berkenaan dengan manusia saja, maka perumusannya sebagai suatu sistem yang harus mengambil model manusia sebagaimana tersempurnakan dalam pribadi Nabi saw. Jadi Universitas islam itu mesti mencerminkan Nabi dalam hal pengetahuan dan tindakan yang tidak benar; dan fungsinya adalah untuk menghasilkan manusia, laki-laki dan perempuan, sedekat mungkin menyerupai beliau.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

1. Prof. DR. Syed Muhammad Naquib Al-Attas merupakan keturunan ulama dan ahli tasawuf yang terkenal dari kalangan sayid. Silsilah keluarganya bisa dilacak hingga ribuan tahun ke belakang melalui silsilah sayyid dalam keluarga Ba’Alawi di Hadramaut dengan silsilah yang sampai kepada Imam Hussein, cucu Nabi Muhammad SAW.

2. Menurut Syed Muhammad naquib yaitu pendidikan adalah suatu proses penanaman sesuatu kedalam diri manusia. Suatu proses penanaman itu mengacu pada metode dan sistem untuk apa yang disebut pendidikan secara bertahap. “ sesuatu “ mengacu pada kandungan yang ditanamkan.

3. Bentuk sistem pendidikan islam adalah pengetahuan, manusia, perwujudan paling tinggi dan paling sempurna dari sistem pendidikan adalah universitas , dan mengingat bahwa universitas merupakan sistemasi pengetahuan yang paling tinggi yang di rancang untuk mencerminkan yang universal.


DAFTAR PUSTAKA

Al-Attas, Syed Muhammad Al-Naquib. Islam dan Filsafat Sains, Bandung : Mizan.
Al-Attas, Syed Muhammad Al-Naquib. Konsep Pendidikan dalam Islam, Bandung : Mizan, 1994.
Http://en.wikipedia.org/wiki/Syed_Muhammad_Naquib_al-Atta[1] http://en.wikipedia.org/wiki/Syed_Muhammad_Naquib_al-Atta
[2] Konsep pendidikan islam, hal. 35
[3] At-tahanawi bab. Al-insan, vol.1, hal. 75-78; dan al-alam, vol.4, hal. 1055.

No comments:

Post a Comment

Followers